Perbedaan Alat Swab Baru Vs Daur Ulang

Apa bahaya dari alat bekas?

Salah satu kekhawatiran yang paling menonjol dari kejadian alat tes antigen bekas adalah risiko kontaminasi. Ada beberapa kejadian 'penggunaan' alat tes bekas yang pernah dilaporkan di dunia, namun hampir semua karena faktor ketidaksengajaan dan belum ada laporan timbulnya kasus infeksi karena hal ini.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) sebelumnya juga pernah menarik alat tes deteksi COVID-19 yang dihasilkannya karena masalah kontaminasi. Hal ini membuat tes jadi tidak bisa diandalkan karena menghasilkan kasus positif palsu.

"CDC tidak membuat alat tes sesuai protokolnya sendiri... Sangat penting agar alat tes berfungsi seperti seharusnya, karena hasil yang keliru bisa turut berkontribusi terhadap penyebaran COVID-19," komentar Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

 

 

Ahli Patologi Klinik Laboratorium Primaya Hospital Karawang dr Hadian Widyatmojo, SpPK mengimbau agar masyarakat juga perlu untuk memastikan apakah alat swab yang digunakan baru atau bekas pakai.

Dijelaskan, masyarakat bisa meminta kepada petugas swab untuk memperlihatkan bahwa alat swab yang masih baru bisa dibuka di depan pasien yang akan melakukan swab test.

"Sebelum dilakukan pemeriksaan, petugas perlu menunjukkan kepada pasien bahwa alat masih dalam kemasan sebelum dipakai. Petugas akan membuka bungkus plastiknya sesaat sebelum tindakan swab untuk menjaga agar alat tersebut tetap steril dan mencegah kontaminan.

Selain itu, dr Dwi mengatakan bahwa alat swab yang sudah digunakan tidak boleh digunakan kembali. Sebab alat ini sangat berisiko tinggi pada kesehatan dan bisa menjadi media penularan infeksi virus Corona COVID-19 kepada pasien lainnya.

Masyarakat juga bisa memperhatikan indikasi-indikasi lainnya untuk mendeteksi apakah alat swab tersebut adalah baru atau bekas pakai. Seperti, permukaan swab stik berwarna putih bersih, masih mulus atau tidak kelihatan bergerigi, serta tidak beraroma.

Tak hanya membedakan alat swab saja, dr Hadian juga mengatakan bahwa selama pengambilanya benar dan aman serta menggunakan alat yang direkomendasi dan memiliki izin edar, maka hasil pemeriksaan swab tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

"Alat swab Ag harus mempunyai Nomor Ijin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan. Pasien dapat meminta petugas untuk diperlihatkan Sertifikat NIE dari vendor alat.

 

sumber : www.detik.com

Akademi Keperawatan Berkala Widya Husada Jakarta berdiri pada tahun 1994 atas Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : HK 00.06.1.1.2156 dan terakreditasi B. Pada tahun 2006 SK Menteri Pendidikan Republik Indonesia NO:130/D/O/2006 tentang pengalihan pembinaan akademi keperawatan berkala widya husada dari departemen kesehatan ke departemen pendidikan nasional, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2005, pada tahun 2014 Akper Berkala Widya Husada terAkreditasi BAN-PT dan pada tahun 2015 Akper Berkala Widya Husada Bersinergi dengan Rumah Sakit Melia Cibubur.

Welcome Akper berkala Widya husada